Rabu, 14 Maret 2018

BAKSOS XII IPS SMA N 1 PLERET

DOA BERSAMA
Giwangan, 12 Maret 2018 . LKSA  kami kedatangan tamu dari siswa kelas XII IPS  SMAN 1 Pleret.  Tujuan kedatangannya adalah silaturahim dan doa bersama. Bapak Ibu Guru dan anak-anak kelas XII IPS SMA N Pleret yang mengikuti kegiatan kurang lebih 40-50 orang. Kegiatan dilaksanakan hari senin sore dimulai jam 16.15 WIB. Kegiatan diawali dengan alfatihah, pembacaan ayat suci Al Quran, sambutan-sambutan,  motivasi, dan doa penutup. 

Sambutan dari SMA N 1 Pleret diwakili dari Bapak Salimudin. Beliau Guru Agama Di SMA N 1 Pleret. Dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih  kepada LKSA putra Islam yang telah memberikan kesempatan sekolah kami untuk berbagi. Tujuan kami kesini untuk silaturahim dan doa bersama. Semoga kegiatan di Sore hari ini mendapatkan keberkahan oleh Allah SWT.

foto bersama
Acara di lanjutkan dengan sambutan dari panti dan sedikit arahan kepada anak-anak SMA N 1 Pleret dan anak-anak Panti Putra Islam. Fajar mewakili LKSA pertama mengucapkan terima kasih  dan memberikan beberapa pesan dalam menjalani ujian. Jangan jadikan UN sebagai beban. Ini adalah salah satu ujian siswa untuk kenaikan tingkat ke jenjang lebih tinggi. Ibarat anak tangga, UN adalah bagian dari anak tangga itu. Mari memperbaiki hubungan baik kepada Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi Larangan Nya.  Perbaiki hubungan dengan orang tua dan guru, karena keberkahan ilmu salah satunya didapatkan dari beliau. dan terakhir perbaiki diri kita sendiri. Mau tidaknya kita merubah diri kita kearah yang lebih baik.  Sukses UN tergantung kesiapan kita dalam menghadapinya. Bismillah mulailah dengan niat yang kuat atau azzam yang kuat untuk bisa menghadapi UN dan ingin membahagiaakan orang tua. 

Acara Inti adalah doa bersama yang dipimpin oleh ananda Hamid. Sebelum pulang anak-anak dari SMAN Pleret memberikan donasi kepada anak-anak kami. Terima kasih SMA N 1 Pleret atas kunjungnnya. dan pemberian donasinya. Sukses buat USBN dan UNBKnya. Kegiatan ditutup jam 17.30 dengan berjabatan tangan  dan foto bersama. 


Senin, 12 Februari 2018

RAPORTAN MDT PAY DAN TKA TPA AL ISLAM

Alhamdulillah ujian telah selesai, waktunya untuk menerima hasil evalusi belajar anak-anak MDT dan TKA TPA. Raportan Semester gasal dilaksanakan hari Jumat, 9 Februari 2018 jam 19.30-21.30 WIB. Kegiatan dimulai dengan pembacaan Alquran sambutan-sambutan, penerimaan hadiah bagi yang juara, penampilan santri, Doa dan terakhir pmbagian raport. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar
tarian

hadroh

tari




KUNJUNGAN KELAS DARI MTS 1 YOGYAKARTA

siswa siswi
Untuk melatih kepekaan siswa  untuk peduli sesama Mts 1 Yogyakarta sering mengadakan Kunjungan ke panti. Kebetulan salah satu panti yang dituju adalah Panti Putra Islam Giwangan. Anak-anak diajarkan tentang kepedulian dan di isi motivasi dan doa bersama. Alhamdulillah kegiatan diberikan kelancaran. Semoga anak-anak jadi anak yang sholeh sholehah. aamiin

Minggu, 11 Februari 2018

PENYULUHAN MAHASISWA UGM

Hari Ahad tanggal 4 Februari 2018 diadakan kegiatan bersama UKM Leadhership. Kegiatan dilaksanakan pada pukul 09.00-12.00 WIB. Kegiatan diisi dengan penyuluhan kesehatan dan sharing pengalaman. Kebetulan ada 2 mahasiswa luar negri yang ikut. Namanya lupa tetapi asalnya dari China untuk mahasiswa Putra  sedangkan yang putri dari German. Mas dan mbk itu mempresentasikan  pengalamannya dengan bahasa inggris. Alhamdulillah ada penerjemahnya sehingga kami tahu maksud yang disampaikan. Intinya kegiatan hari itu sangat menyenangkan.

foto bersama


Senin, 05 Februari 2018

PENDIDIKAN YANG MENGHUKUM DI INDONESIA

Oleh: Rhenald Kasali

Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.

“Maaf, Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak
anaknya dididik di sini,” lanjutnya.

“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!”, dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.

Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat.

Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.

Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.

Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa “gurunya salah”. Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan rasa takut?

Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: Rotan pemukul, dilempar kapur atau penghapus oleh guru, setrap, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata ancaman: Awas…; Kalau…; Nanti…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin membuat kita lebih disiplin. Namun, juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari. atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan m anusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun.

Ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang “tambah pintar” dan ada pula orang yang “tambah bodoh”.

Mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.

Bantulah anak Indonesia untuk maju.

#Smoga bacaan ini, bisa bantu temen2 tentang makna mendidik..
Mendidik adalah utk merangsang anak agar maju,
Membantu menemukan potensi terbaik anak dan mengembangkannya,
Menjadikan anak berakhlak baik.

Sabtu, 03 Februari 2018

AKU PERGI UNTUK KEMBALI

Aku pergi untuk kembali
pergi untuk mencari ilmu dan kembali untuk memberikan inspirasi
penuh pengorbanan yang harus dilalui dari hari ke hari.
banyak duri-duri  yang akan menghalangi
tetapi langkah kaki ini tak kan berhenti
harus maju dengan langkah pasti.

Aku pergi untuk kembali
pergi untuk mengais rezeki  dari pagi hingga petang hari
demi sesuap nasi untuk kelurga  yang selalu di nanti.

Aku pergi untuk kembali
pergi dari kegelepan hati menuju pancaran illahi
aku malu pada Mu Wahai  Robbi yang membolak balik kan hati ini
Nikmat yang telah Engkau beri  kadang kurang ku syukuri
aku malu pada diri ini,
Ya Rabb ampunilah dosa kami, semoga suatu saat nanti ada perubahan positif  pada diri ini.



Pojok Kamar, 04 Februari 2018
Mas Fa

Selasa, 23 Januari 2018

TAHAPAN TAHAPAN KETIKA MEMBACA AL QURAN

4 Tahap Menuju Nikmatnya Tilawah (📖Membaca al-Quran) :
-------------------------------------
✨ DIPAKSA
--------------------
Paksakan diri untuk terus bisa Tilawah tiap hari, suka atau tidak, ringan ataupun berat, cepat atau lambat asal jangan terlewat..
terus paksakan diri...

✨ KEBIASAAN
------------------------
Beberapa bentuk paksaan akan berubah menjadi 'kebiasaan'.
Kita akan merasa aneh jika tidak tilawah sehari saja.

✨ KEBUTUHAN
--------------------------
Kebiasaan yg terus di lakukan akan berubah menjadi 'kebutuhan'.
Di tahap ini sudah mulai tumbuh benih-benih cinta tilawah, akan merasa rugi jika tidak bisa tilawah

✨ KENIKMATAN
---------------------------
Pada tahap ini tilawah sudah menjadi 'candu'. tilawah berlama lama adalah 'kenikmatan'.
Sedangkan ketika terlewat tidak bisa tilawah akan membuat diri resah.

Yang perlu kita lakukan adalah 'istiqomah' dan  mengajak, memotivasi diri dan saudara2 lainnya untuk terus semangat dalam tilawah agar mereka pun dapat merasakan nikmatnya bertilawah..

INGAT..! Kebaikan itu seperti pantulan bola, semakin semangat kita memantulkannya kepada yang lain, maka akan semakin kencang semangat yg akan kita terima.

Kita sudah ditahap mana..?

📃 Ustadz Abdullah Zen, MA hafidhahullah