Jumat, 30 Oktober 2015

Lir ilir

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…


Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya 
Lir-ilir, lir-ilirtembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.
tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.
Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi.
Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.
Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.
Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir.
Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.
dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.
Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.
Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.
Yo surako surak hiyo.
Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)


Kamis, 29 Oktober 2015

Nasihat Bijak

  1. Mengerjakan apapun, yang penting adalah sunggh-sungguh, Tenanan.( KH Ahmad Sahal)
  2. Kunci keberhasilan Guru dalam mengajar adalah kecintaan sang guru kepada muridnya ( kalau seorang guru benar-benar mencintai muridnya ia tentu akan mujahadah lahir dan bathin, segala cara akan dicapai, maka ahirnya tentu akan mendapatkan cara/methode yang tepat, sehingga murid dapat menerima ilmu yang diajarkannya )( KH Ahmad Sahal)
  3. Administrasi yang rapi, mutlak perlu ( wajib ) untuk menjaga kepercayaan( KH Imam Zarkasyi)
  4. Ada uang bisa membangun, ada uang tidak membangun berarti tidur nyenyak, tidak bekerja, uang habis, tidak ada bangunan sama dengan korupsi( KH Imam Zarkasyi )
  5. Berjasalah tapi jangan minta jasa. ( KH Imam Zarkasyi )

Rabu, 28 Oktober 2015

Galery Foto

Manasik Haji

TIM futsal Panti

Outbond Di Muga

Visi Misi

   
VISI
Menjadi lembaga sosial keagamaan yang amanah, peduli pada anak yatim piatu dan fakir miskin berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.
MISI
  1. Menyelenggarakan lembaga Panti dibidang pengasuhan anak yatim piatu dan anak terlantar yang professional dan amanah.
  2. Mengentaskan anak asuh sehingga memiliki pengetahuan, keterampilan, kreatif dan inovatif, dan berakhlak mulia yang mampu hidup mandiri.
  3. Membangun jaringan kerjasama dalam bidang santunan dengan berbagai pihak baik di dalam maupun di luar negeri yang bermanfaat dan relevan bagi anak asuh.
  4. Menyelenggarakan secara berkelanjutan pendidikan umum dan agama, pengasuhan serta manajemen Panti yang bermutu dan transparan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
  5. Memenuhi kebutuhan dasar berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, ketrampilan dan kasih sayang, serta membangun rasa percaya diri, optimisme juga semangat beragama dan dakwah Islam bagi anak asuh.
TUJUAN
Lulusan Panti diharapkan mampu menjadi pelaku dakwah Islam di tengah keluarga dan masyarakat.

Sejarah

Sejarah Pada Tahun 1973, setelah roda kehidupan PAY Putri Islam mulai berputar menuju peningkatan yang perlu dan harus di syukuri, selanjutnya RM. Suryowinoto memiliki niat untuk juga menyantuni anak yatim putra, maka dibentuklah sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Panti Asuhan Putra Islam dengan Akte Notaris No. 35 tanggal 25 Januari 1973engan susunan pengurus sebagai berikut :


Ketua..........    : RM. Suryowinoto
Sekretaris        : RM. Hadi Suryoseputro
......................    Sutarmi Zainuri
Bendahara       : Ny. Titik Yudhawati
Pembantu        : - R. Kodrat
...................     .- Ny. R.A. Siti Rahayu
...................     .- Heru Santosa, SH

Dengan modal Rp. 10.000,- RM. Suryowinoto menyewa sebuah rumah yang cukup besar di kawasan Suryowijayan Yogyakarta yang digunakan untuk PAY Putra Islam.
Pada Tahun 1977 keluarga H. Tjokrosuharto seorang pengusaha di Yogyakarta mewakafkan tanahnya seluas 90 x 12 M2 di wilayah Giwangan Yogyakarta guna dimanfaatkan untuk panti.
dengan modal Rp. 5.000.000,- dari zakat, infaq, sodaqoh yang antara lain dari pemerintah Arab Saudi serta dukungan dana dari Pemda DIY, jadilah sebuah bangunan panti diatas tanah wakaf dari H. Tjokrosuharto yang luasnya 12 X 45 M2 (bagian timur) sementara bagian barat untuk PAY Putra yang pembangunannya menyusul (bertahap) disesuaikan anggaran yang ada.
Pada tahun 1981, rumah yang berada di Kadipaten Kidul KP I/340 Yogyakarta dikembalikan pada pemiliknya, selanjutnya PAY Putra Islam menempati gedung baru yang tanah wakaf dari keluarga H. Tjokrosuharto. Tanggal 12 April 1985, sesuai dengan keputusan rapat, diadakan perubahan susunan pengurus PAY Putra Islam dengan Akte Notaris No. 50, tanggal 16 April 1985. Adapun susunan pengurusnya adalah sebagai berikut :
Ketua...........   : RM. Hadi Suryoseputro
Sekretaris...     : R. Heru Santoso, Bc. Hk.
.                         Tugiman
Bendahara..     : Ny. Titik Yudhawati
 Fahrurrozi
Seiring dengan perkembangan yang telah dapat dicapai maka pada tahun 1999 PAY Putra Islam mendirikan cabang di wilayah Kabupaten Sleman tepatnya di Dusunn Kutan, Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman. Yogyakarta. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan kapasitas jumlah layanan.
Pada tahun 2009, Yayasan RM. Suryowinoto yang sebelumnya hanya mengelola anak yatim putra, kini meningkatkan pelayanannya dengan menyantuni juga anak yatim putri yang menggunakan gedung yang ada di Berbah, Sleman. Dan untuk putra di pindah jadi satu di Giwangan.